Thursday, December 18, 2008

Google Docs System Untuk Kantor Saya

Baru-baru ini, saya mencoba aplikasi Google Docs ( http://docs.google.com ). Awalnya, saya mendapat informasi tentang aplikasi ini lewat topik open document format di salah satu forum. Dalam forum tersebut, beberapa obrolan sempat menyinggung tentang Google Docs. Saya sempat mengira bahwa Google Docs adalah sebuah aplikasi yang bisa di-download layaknya Google Chrome. Ternyata saya salah, Google Docs adalah sebuah aplikasi berbasis web yang memiliki interface dan fungsionalitas layaknya aplikasi office stand alone. Akan tetapi, tentunya memiliki keunggulan tersendiri sebagai aplikasi berbasis web.

Singkat cerita, saya langsung meluncur ke TKP. Begitu masuk halaman utama, saya langsung disuguhi halaman login ke Google. Setelah itu, saya langsung menggunakannya dengan mensimulasikan seolah-olah saya membuat dokumen dengan satu akun google dan men-sharing-nya kepada beberapa user lain termasuk akun google saya yang lain ( NB : Saya mempunyai dua akun google ). Hasilnya luar biasa, dengan dua akun google saya bisa menggunakan keduanya untuk meng-edit dokumen yang sama tentunya dengan seijin pembuat dokumen. Selain anda bisa membuat dokumen langsung lewat web, anda juga bisa meng-upload file dokumen dalam bentuk open document format. Riwayat peng-edit-an fie yang bersangkutan juga dapat anda pantau lewat fasilitas RSS Feed yang berisi log tentang riwayat peng-edit-an file.

Dalam tulisan ini saya tidak ingin mengulas tentang cara penggunaan Google Docs, yang ingin saya komentari adalah konsep sistem seperti ini yang sangat membantu pekerja kantor yang acap kali berurusan dengan tukar menukar dokumen. Dengan sistem ini, tidak ada lagi file yang tergandakan dalam server. Riwayat peng-edit-an terekam jelas sehingga kendali atas file dapat dilakukan secara menyeluruh.

Saya mencoba mencontoh implementasi dari sistem ini di tempat kerja saya di BPKP ( http://www.bpkp.go.id ) . Katakanlah dalam sebuah penugasan audit, seorang anggota tim dan ketua tim membuat sekumpulan KKP ( Kertas Kerja Pemeriksaan ) dengan hak ubah untuk anggota tim dan ketua tim. Lalu, berdasarkan Kertas Kerja Pemeriksaan yang telah ada Sang Ketua Tim membuat laporan hasil audit dengan hak ubah kepada Pengendali Teknis, Kepala Bidang sebagai Pembantu Penanggung Jawab dan Kepala Kantor Perwakilan sebagai Penanggung Jawab. Setelah laporan selesai direview dan diberi tanda tangan secara digital oleh Kepala Kantor Perwakilan setelah sebelumnya direview oleh Pengendali Teknis dan Kepala Bidang ( karena jejak peng-edit-an terekam dengan baik dalam RSS Feed, maka laporan akan dapat dikontrol apakah dia sudah selesai di-review atau belum). Selesai direview, laporan bisa dicetak dan diperbanyak untuk selanjutnya dikirimkan pada pihak-pihak eksternal yang berkepentingan. Untuk pihak internal (kedeputian), dapat melakukan pencetakan sendiri bila diperlukan.

Keuntungan dari sistem semacam ini salah satunya adalah penghematan kertas karena tidak diperlukannya lagi kertas untuk mencetak draft laporan untuk kepentingan review laporan. Selanjutnya apabila sistem ini sudah berjalan dengan baik lewat server internal kantor, maka antara Ketua Tim, Pengendali Teknis, Kepala Bidang dan Kepala Kantor Perwakilan tidak perlu bertemu secara langsung hanya untuk membahas review laporan sehingga review laporan dapat dilakukan dengan cepat dan tepat.

Lebih jauh lagi implementasi dari sistem ini adalah berkurangnya kebutuhan pegawai untuk hadir di kantor. Katakanlah keadaan kantor seperti di kantor perwakilan BPKP di Kalimantan Barat yang memiliki lima kompleks perumahan. Apabila dari kelima kompleks perumahan BPKP tersebut bisa dihubungkan lewat jaringan WAN sehingga semua rumah memiliki koneksi WAN ke kantor, maka pegawai tidak perlu hadir di kantor hanya untuk mengerjakan tugas. Jadi, sepertinya kebijakan absen lewat sidik jari perlu direvisi ulang ( hehehe ).

Akhirnya, lewat perbaikan sistem ini tentunya kinerja dari instansi pemerintahan akan semakin baik dan seterusnya akan semakin menunjang kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.

Maju terus Indonesia!!!

Friday, December 12, 2008

Komunitas Linux...sebuah ironi di tengah harapan

Apakah bedanya sebuah komunitas motor, katakanlah Komunitas Honda Tiger dengan Komunitas Linux? Keduanya adalah sama-sama komunitas pengguna dan lebih dalam lagi adalah pecinta objek yang menjadi pemersatu anggota komunitas tersebut (Honda Tiger dan Linux). Bedanya adalah yang satu (Honda Tiger) adalah produk dari satu vendor yang jelas sehingga mudah apabila mencari dukungan dan vendorpun dapat memiliki keuntungan promosi dari kegiatan yang diadakan komunitas tersebut, sementara yang lain (Linux) bukanlah sebuah produk dari vendor tertentu (kecuali beberapa komponen dan beberapa distro) sehingga tidak memiiki sisi positif yang telah disebutkan sebelumnya.

Sebenarnya, komunitas linux bisa memiliki keuntungan timbal-balik yang sama seperti yang dimiliki Komunitas Honda Tiger. Syaratnya adalah, kebutuhan (demand) akan perangkat lunak sehandal linux harus diperbesar sehingga sebesar kebutuhan akan kendaraan roda dua. Nah, itulah yang membuatnya menjadi ironi di tengah harapan akan menumbuhkan kemandirian di bidang perangkat lunak. Jelas menjadi sebuah ironi, di mana kebutuhan akan komputer-internet yang didasari dengan layanan listrik sebagai sumber utama kekuatan penyangga layanan di bidang komputer dan internet ini masih belum bisa menjangkau seluruh pelosok negeri, sementara harapan akan adanya kemandirian di bidang perangkat lunak terus-menerus didengungkan seiring dengan munculnya komunitas-komunitas linux di berbagai tempat dan berbagai label (distro, dsb.).

Lalu, apakah yang harus dilakukan komunitas linux dalam kaitannya semakin mempopulerkan linux di seluruh pelosok negeri? Jelas, mereka harus ikut menggerakkan warga masyarakat di daerah pelosok untuk membangun instalasi listrik untuk mendukung jaringan internet dan membagikan OLPC untuk siswa-siswi di sekolah tertinggal tersebut sambil memasukkan kurikulum IT berbasis Open Source! Ups, itu tugas pemerintah atau tugas komunitas linux ya? Atau pelaksanaannya di lapangan ditenderkan ke komunitas linux dengan dana dari pemerintah? Atau, komunitas linux mempopulerkan linux setelah semuanya tersedia? Hehehe, bingung aku!

Tidur aaahhh...

Salam Open Source!!!

Masakan Padang memang Mak Nyuzzz...apalagi kalau di Warung Padang cap Warung Tegal

Ide tulisan ini bermula dari kegiatan seorang rekan saya yang suka sekali jalan-jalan dan makan-makan seperti acara Wisata Kuliner di Trans TV. Suatu kali, rekan saya ini iseng ingin mengorek informasi dari warung-warung padang yang terkenal enak di Pontianak. Di antara warung-warung tersebut adalah Sari Bundo, Warung Sederhana, dan Simpang Ampek. Satu lagi yang tidak terlalu ramai namun juga sudah terkenal adalah Warung Nasi Etek.

Di warung pertama, saat selesai makan dia menanyai pelayan apakah si koki dari semua masakan ini adalah orang dari Padang, Sumatera Barat. Ternyata dari semua warung yang telah disebutkan di atas, hanya Warung Nasi Etek yang menjawab bahwa koki mereka berasal dari Padang, yang lain menjawab dari Cirebon, Temanggung dan Banyumas. Wah, kalau begitu yang padang apanya ya?

Jadi, bila anda mengira bahwa anda sudah mencicipi cita rasa masakan padang di warung padang di sekitar anda...Pikirkanlah lagi! Jangan-jangan masakan padang yang anda cicipi saat itu adalah masakan padang citarasa warung tegal, hehehe...

Monday, November 17, 2008

Fungsi mengintip kaca spion kendaraan di depan kita

Saya punya kebiasaan mengintip wajah gadis-gadis cantik di jalan yang sedang mengendarai sepeda motor. Biasalah, bujangan yang masih ingin lihat-lihat yang seger-seger. Terkadang berbahaya juga kalau melihat dengan cara mendahului kendaraan yang dikendarai si gadis lalu menoleh ke arahnya untuk mengintip wajahnya, karena pada saat menoleh itu berarti perhatian kita tidak tertuju kepada lalu lintas di depan kita. Maka dari itu, saya mengembangkan kebiasaan yang lain, yaitu mengintip wajah gadis biker (pengendara sepeda motor) di spion mereka.

Teknik mengintip wajah ini saya rasa jauh lebih aman dibanding cara konvensional yang saya sebut di awal tulisan saya karena kita hanya mengintip spion di depan kita sehingga pandangan kita tetap ke arah depan dan perhatian kita terhadap lalu lintas tidak terlalu terganggu. Akan tetapi, cara ini memiliki kelemahan yaitu apabila spion yang digunakan oleh gadis itu terlalu sempit, wajahnya tidak akan nampak seutuhnya. Ya lumayanlah, yang penting dapet...namanya juga usaha, gitu Mas!

Akan tetapi, insiden yang saya alami belum lama ini membuat saya sadar bahwa teknik ini ternyata perlu lebih banyak digunakan dan yang lebih penting, “disempurnakan”!!! Insiden itu berawal saat saya sedang berada di belakang kendaraan seorang gadis berjilbab dengan seragam akademi kebidanan, saya sedang asyik mengintip wajahnya di balik kaca spion Yamaha Mio-nya ketika tiba-tiba dia bergerak ke arah kanan (saya mengintip dari spion sebelah kanan) untuk menghindari sebuah Honda Astrea Legenda yang muncul dari mulut gang. Hampir saja Yamaha Mio-nya menyenggol Honda SupraXX yang saya kendarai seandainya saya tidak sempat mengurangi kecepatan. Dari hasil pengintipan dari kaca spion, terlihat jelas bahwa si gadis berjilbab ini tidak sedikitpun melirik ke kaca spion untuk memastikan kondisi lalu lintas di sebelah kanan belakang dari kendaraannya benar-benar aman sebelum dia bergerak ke arah kanan.

Saya masih penasaran, saya terus mengintip kaca spion gadis ini sambil memperhatikan raut wajahnya yang manis. Tiba di sebuah persimpangan (simpang empat), saya memperkirakan gadis ini akan membelok ke arah kanan karena letak akademi kebidanan memang ke arah kanan. Sesuai dugaan saya dia bersiap-siap untuk menikung ke arah kanan dengan menyalakan lampu sein Yamaha Mio-nya, akan tetapi saya sayangkan sekali lagi dia melakukan manuver untuk berbelok ke arah kanan tanpa sekalipun melirik kaca spion-nya yang dibiarkan masih standar tersebut. Melihat hal tersebut, saya memilih untuk agak lambat dan mengambil posisi manuver di sisi luar atau dengan kata lain di sebelah kiri Yamaha Mio putih yang saya ikuti tersebut.

Akhirnya, setelah simpang empat yang kami lalui tersebut kami sampai di jalan lurus, di sini saya ingin mendahului gadis tersebut. Langkah pertama, nyalakan lampu sein kanan lalu lihat kaca spion arah kanan belakang dan akhirnya setelah yakin aman, gerakkan motor ke arah kanan lalu diikuti dengan memutar tuas gas lebih dalam dan jaga agar tidak sampai melebihi marka jalan (kebetulan sasarannya sudah cukup di tepi kiri) lalu kembali ke arah kiri dengan mematikan lampu sein tanpa mengurangi kecepatan.

Hmm, rupanya teknik mengintip kaca spion ini masih ada gunanya juga selain cuma mengintip wajah gadis, ya? Dengan ini kita mengetahui apakah pengendara di depan kita waspada atas keberadaan kita untuk selanjutnya mengetahui manuver seperti apa yang akan dia lakukan untuk nanti pada akhirnya kita menentukan posisi bagi kendaraan kita sendiri agar tetap dalam posisi aman dan nyaman. Itu sih, kalau pengendara di depan kita masih menggunakan kaca spion! Kalau sudah tidak menggunakan kaca spion, ya jaga jarak saja sekitar satu sampai dua meter untuk menghindari tabrakan dengan kendaraan di depan kita, itupun dengan catatan rem anda masih dalam kondisi baik.

Pokoknya, stay in safety riding...anywhere, anytime and anykind of motorcycle you ride!

Masih mau pakai bajakan?

Terkadang terbetik suatu ide di dalam pikiran saya, kenapa nggak sekali-kali menghitung lebih murah mana, antara MS Windows bajakan dan Linux yg gratis. Setelah lama terpendam karena minder karena sudah terlanjur berpikir bahwa MS Windows bakal lebih murah, akhirnya kemarin saya bersemangat lagi untuk menganalisa tentang hal ini setelah seorang rekan saya mencibir saya dg kata2 ¨selama masih bisa pakai bajakan, kenapa harus pindah Linux?¨

Tapi coba perhatikan, bila kita membeli CD Ubuntu dari juragan kambing (http://kambing.ui.edu) kita bisa mendapatkan seharga 5rb, sementara 5 DVD Repository seharga 50rb sehingga total 55rb. Atau bagi seorang gamer, bisa membeli DVD Ubuntu Ultimate Gamer seharga 10rb, jadi total 60rb. Udah dapet aplikasi open source kumplit-plit!

Kalaupun mau pakai Mandriva seperti saya, saya beli DVD Mandriva XTreme2 dari Tusnet (http://www.tusnet.tk) plus DVD Repository-nya total 65rb

Bila kita membeli CD/DVD bajakan, berapa harga paling murah? 25rb? 15rb? Ya sudah, 5rb saja untuk CD bajakan dan 10rb untuk DVD bajakan seperti yg di Depok itu (Hehe, mengenang zaman jahiliyah menggunakan MS Windows bajakan). Apalagi, harga CD/DVD kosong juga tidak terlampau jauh dengan bilangan tersebut.

Mari kita hitung pengeluaran untuk CD/DVD MS Windows bajakan dan software pendukungnya:

DVD MS Windows Vista Ultimate : 1 DVD : 10rb

DVD MS Office 2007 Enterprise : 1 DVD : 10rb

Game Need For Speed Pro Street : 2 DVD : 20rb

Anti Virus : 1 CD : 5rb

Total : 45rb

Sepertinya sudah cukup, akan tetapi apakah anda puas dg itu saja? Saya koq nggak yakin, ya? Sepertinya anda butuh juga program-program utility, program-program multimedia (converter dan editor file multimedia) dan program graphic (Corel Draw dan Adobe Photoshop). Karena bisa pakai bajakan, maka kita hitung ala bajakan juga, donk!

Kumpulan program utility : 1 CD : 5rb

Kumpulan program multimedia : 1 CD : 5rb

Kumpulan program graphic : 1 CD : 5rb

Total : 15rb

Jadi pas 60rb, kan? Cuma belum ada Web Editor, Development Environment, SQL DBMS, tuh! Kalau mau nambah lagi, silakan dihitung sendiri, ya?

Kalau sudah begini, siapa bilang mending pakai bajakan selama masih bisa pakai bajakan? Dari hitungan di atas, sudah jelas mana yg lebih murah, kan? Sudah lebih murah, lebih menguntungkan pula, karena tidak dipusingkan dg crack, serial number, dsb. Dan yg pasti, legal alias enggak dosa soalnya ada beberapa yg mengatakan hukumnya haram (hayo loe!).

Sudah banyak yg berandai-andai tentang penurunan harga software berlisensi, andai saja software berlisensi bisa turun harga hingga 50rb/keping untuk software yg dikemas dalam CD atau 100rb/keping untuk software yg dikemas dalam DVD atau harga yg tidak jauh dari harga tersebut, pastilah jumlah pembeli software berlisensi akan berkembang, setidaknya kesadaran masyarakat akan menghormati hak cipta akan berkembang dan menciptakan iklim bisnis yg sehat, mengingat di beberapa negara, harga software tidak semahal di Indonesia.

Akan tetapi, sepertinya Open Source adalah jawaban yg tepat untuk jangka pendek ini. Bukan masalah gratisnya, bukan masalah murahnya. Akan tetapi lebih kepada keterbukaannya, keterbukaan ini yg membuat setiap orang dapat berpartisipasi, dapat saling mengembangkan, dapat pula mengubah sesuai keperluan masing-masing. Jadi nggak ada yg namanya NATO (No Action Talk Only) coz even when u only talk, u`ve had an action. At least, ngomong kalo loe enak pake ni software terus ngajakin yg laen pake ni software, gitu choy!

Sifat keterbukaannya ini membuat setiap orang dapat berpartisipasi dan dapat saling mengembangkan, membuat setiap komunitasnya menjadi mandiri dan mampu bediri tanpa perlu dukungan vendor, sehingga sangat cocok untuk diaplikasikan bagi negara kita yg menganut budaya gotong royong ini (lho?). Bersama-sama mengembangkan software open source lalu oleh tim yg ditunjuk oleh pemerintah, software ini diaplikasikan untuk pemerintahan karena pemerintah ada untuk menyejahterakan rakyat dengan memanfaatkan sumber daya yg ada pada masyarakatnya sehingga terbentuklah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.

Ah, indahnya negeriku ini...

Saturday, November 1, 2008

Mainin DVD Ndak Pake DVD Drive

Saya upgrade harddisk saya menjadi 160GB dengan tujuan saya dapat dengan mudah menyalin DVD Movie dalam bentuk image dan memutarnya langsung di harddisk. Di Ms Windows, saya dapat dengan mudah melakukannya dengan menggunakan bantuan perangkat lunak pihak ketiga yang mampu menyimpan image dari DVD Movie. Hanya saja, untuk dapat diputar layaknya DVD Movie maka perangkat lunak ini menyimpan file image dari salinan DVD tersebut dengan format yang hanya dia kenali sendiri. Hal ini menyebabkan file image yang telah saya buat dari hasil menyalin DVD Movie hanya dapat dibuka di komputer yang telah terdapat perangkat lunak yang mampu membuka file image khusus itu.

Di Linux, saya dapat melakukannya tanpa perlu menambahkan aplikasi untuk membuka image DVD. Apalagi, format image-nya adalah .iso . Mengapa harus “.iso” ? Karena format ini telah menjadi standar bagi penyalinan cakram (disk) dalam bentuk image. Sehingga, perangkat lunak yang berurusan dengan image DVD atau CD pasti mampu mengurusi file image dengan format .iso .

Nah, tips yang akan saya sajikan di sini adalah tips untuk melakukan hal tersebut di atas tanpa masuk ke console alias semuanya selalu di mode grafis. Karena tutorial yang selama ini ada, selalu melibatkan console alias di mode text terkadang membuat para pemula merasa kesulitan.

1.Masukkan DVD atau VCD yang ingin anda buat image-nya

2.Biasanya, akan muncul dialog yang menanyakan apa yang ingin anda lakukan dengan DVD Movie tersebut. Kalau muncul, langsung pilih “Copy DVD with K3B”
Free Image Hosting at www.ImageShack.us



3.Setelah anda pilih, maka anda akan dihadapkan pada dialog untuk Copy DVD. Centang pilihan “Only create image” di kolom “Settings”
Free Image Hosting at www.ImageShack.us

QuickPost Quickpost this image to Myspace, Digg, Facebook, and others!">



4.Di tab “Image”, set posisi file image yang akan dibuat (dalam hal ini : /home/banaspati/Videos/Movies/GoldenCompass.iso). Lalu, tekan tombol start
Free Image Hosting at www.ImageShack.us

QuickPost Quickpost this image to Myspace, Digg, Facebook, and others!">




  • 5.Selama menunggu proses penyalinan, silahkan buka text editor favorit anda. Dalam hal ini, saya menggunakan KEdit. Setelah terbuka, lalu ketikkan
    gmplayer dvd://1 -dvd-device /file DVD image.iso anda , dalam hal ini :
    gmplayer dvd://1 -dvd-device /home/banaspati/Videos/Movies/GoldenCompass.iso
    Free Image Hosting at www.ImageShack.us

    QuickPost

    6.Setelah selesai simpan text anda dalam bentuk format .sh , dalam hal ini GoldenCompass.sh
    Free Image Hosting at www.ImageShack.us

    QuickPost

    7.Setelah selesai proses penyalinan, silakan anda klik ganda file .sh yang telah anda buat. Dalam hal ini GoldenCompass.sh

    Selamat, anda kini bisa menyaksikan film DVD kesayangan anda tanpa harus memutarnya di DVD Drive di komputer anda.
    Free Image Hosting at www.ImageShack.us

  • Monday, October 20, 2008

    Solid State Drive

    Menyimak tulisan I Made Wiryana dalam dua edisi InfoLinux (edisi 08/2008 dan edisi 09/2008) , saya mendapatkan sebuah pandangan baru yang semoga bisa jadi gambaran dan pertimbangan rekan-rekan sekalian. Seperti yang kita ketahui, ada tipe storage baru berbasis flash memory bernama Solid State Drive yang dipopulerkan oleh salah satu produk netbook terlaris saat ini, Asus EeePC. Solid state disk (SSD) berbeda dengan harddisk, karena ada batas berapa kali proses penulisan dapat dilakukan. Sehingga sistem yang menggunakan SSD sebagai media penyimpanan kerja harus mengurangi frekuensi proses penulisan. Ini menyebabkan berkas seperti temporary, swap dan sebagainya tidak bisa diletakkan di filesystem.

    Namun, storage tipe ini memiliki keunggulan yaitu tidak berisik, hemat daya, cepat dan sangat handal. Walaupun harganya memang masih sangat mahal karena harga Flash memory memang masih mahal. Akan tetapi, memang tipe storage berbasis flash yang melakukan penyimpanan data secara elektronis (bukan magnetis seperti harddisk) ini memiliki ketahanan dan kehandalan yang jauh lebih baik ( Majalah CHIP, edisi 08/2008, Pengujian Ketahanan Media)

    Untuk linux proses perubahan dari lokasi ini tidak begitu rumit, hanya perlu dilakukan beberapa perubahan pada proses penulisan file. Misal tidak menggunakan partisi swap, partisi SSD dimounting dengan opsi “noatime”, dan tidak menggunakan filesystem dengan journaling. Selebihnya adalah pemetaan direktori serta pemanfaatan /etc/sysctl.conf untuk mengoptimalkan proses penulisan ke SSD. Berbeda dengan WindowsXP, Microsoft membutuhkan waktu lama untuk men-tune sehingga cocok untuk eeePC. Akibat permintaan pengguna untuk menggunakan WindowsXP, maka versi baru eeePC terpaksa dinaikkan hardware-nya termasuk kapasitas SSD-nya. Hal ini menyebabkan harga eeePC menjadi lebih mahal, dan ini disebabkan kekurangmampuan WindowsXP di“tune” untuk ukuran kecil.

    Dalam jangka waktu dekat ini, tampaknya USB Flash Drive sebesar 2GB masih lebih dari cukup untuk media penyimpanan portable yang saya gunakan. Mungkin bila sudah saatnya beralih ke SSD, kita bisa berharap Microsoft sudah membenahi produknya untuk menangani storage berbasis flash ini.

    Salam semuanya!!!

    Laptop jadi kaya' Handphone, aja!

    Membaca opini I Made Wiryana dalam InfoLinux edisi Bulan April 2008, senyum lebar makin menghiasi wajah saya. Bukan karena Linux semakin menunjukkan keungulannya di dunia notebook modern, akan tetapi lebih karena ramalan yang saya simpan selama ini terbukti setidaknya ada indikasi yang mengarah ke sana. Permasalahannya, karena ramalan ini saya simpan maka tidak dapat dibuktikan bahwa saya telah meramalkan hal tersebut.

    Sebelum berbicara mengenai ramalan saya tersebut, lebih baik kita menilik kembali ke belakang. Di tahun 2007 lalu, Intel meluncurkan standar platform yang didukung penuh oleh salah satu pabrikan notebook dalam negeri sehingga memberikan kesamaan terhadapa beberapa komponen notebook yang diharapkan berujung kepada kemudahan personalisasi notebook. Konsep yang ditawarkan, tampaknya akan membuat notebook seperti PC desktop. Beberapa kalangan bahkan menggembar-gemborkan
    prediksi bahwa dalam masa depan, notebook akan seperti PC desktop rakitan. Akan tetapi, saya melihat standar tersebut (Common Building Block) hanya digagas oleh satu vendor komponen notebook, yaitu Intel. Ini artinya, tidak ada universalitas yang membuat gagasan itu bisa diterima oleh semua pabrikan notebook.

    Saya cenderung melihat kebalikannya. Notebook dibeli oleh konsumen tidak hanya karena komponen yang menjamin performa prima dipadukan dengan harga yang murah. Notebook dibeli oleh konsumen, lebih karena alasan desain. Desain dalam hal ini tentu mencakup semuanya. Pertama, keseimbangan kinerja antar komponen jangan sampai prosesor kencang diimbangi dengan spesifikasi RAM yang tanggung dan kartu grafis yang pas-pasan atau notebook dengan dimensi mini agar mudah dibawa-bawa
    akan tetapi mengusung baterai yang daya tahannya pas-pasan. Kedua, desain ergonomi seperti penataan keyboard, tingkat sensitivitas touchpad dan kelengkapan tombol standar dalam notebook yang memudahkan penggunaan jadi alasan konsumen memilih suatu produk notebook. Yang terakhir walau bukan yang paling akhir, nilai estetika notebook seperti langkah produsen notebook Taiwan yang menawarkan casing berlukiskan pernak-pernik logo tim balap formula one ataupun aksi pesaingnya yang menawarkan balutan kulit (leather) dalam casing notebook premium mereka.

    Dari kesemua faktor tersebut di atas, akhirnya mewujudkan segmentasi pasar tersendiri bagi pasaran notebook. Ada notebook yang dikhususkan untuk kalangan pekerja, gamer, multimedia dan sebagainya. Dari kesemua segmentasi pasar untuk notebook tersebut, sesuai dugaan saya akan muncul satu segmentasi baru yang sampai sekarang saya sendiri susah untuk memberikan namanya. Segmentasi yang seperti ini diwakili oleh OLPC, Asus EeePC, Everex Cloudbook, Intel Classmates PC, dan
    sebagainya. notebook-notebook yang sebagian besar mengusung sistem operasi Linux ini membuat notebook semakin terlihat mirip dengan handphone (belakangan disebut netbook). Kemiripan ini diwujudkan dengan hardware yang diracik oleh produsen sendiri dengan software yang dikustomisasi oleh produsen sendiri walaupun pengguna memiliki opsi untuk mengubah sendiri software di dalam notebook tersebut, tidak seperti dulu di mana notebook hanya ada bundle sistem operasi dari satu atau dua vendor sistem operasi sedangkan sisanya kosong tanpa sistem operasi. Tinggal konsumen sekarang dihadapkan kepada pilihan sesuai kebutuhan mereka dalam melakukan aktivitas komputasi. Seperti halnya konsumen memilih handphone sesuai dengan kebutuhan komunikasi mereka.

    Sekarang, tinggal kita tunggu kreativitas para pabrikan notebook untuk meracik hardware dan software yang mampu menarik perhatian para konsumennya. Nah, ramalan saya adalah bahwa notebook akan menjadi semakin mirip dengan handphone, hehehe…salam.