Thursday, September 3, 2009

Cara Menjawab Adalah Budaya


Cara menjawab suatu pertanyaan bisa juga menunjukkan budaya dan kepribadian seseorang. Pernah suatu kali saya lontarkan pertanyaan di facebook (screenshot-nya saya lampirkan dalam posting ini), tentang pantas/tidakkah menikmati fasilitas free internet access dari suatu café akan tetapi tidak ikut membeli produk (baca : makan/minum) di café tersebut. Memang jawaban yang berhasil saya kumpulkan tidak banyak, akan tetapi jawaban-jawaban tersebut cukup mengingatkan saya akan pelajaran Bahasa Inggris yang pernah saya terima sewaktu duduk di bangku SMU dahulu.

Pertanyaan yang saya ajukan sebenarnya sederhana saja jawabannya, ya atau tidak. Kalau “ya”, beberapa penjawab biasanya akan memberikan beberapa alasan untuk menguatkan jawabannya begitu pula kalau jawabannya “tidak”. Sewaktu saya belajar Bahasa Inggris di bangku SMA dahulu, guru saya selalu menekankan kalau menjawab pertanyaan seperti itu (Bahasa Inggris = Yes/No Question) maka saya harus mengatakan “Yes” atau “No” terlebih dahulu sebelum saya menjelaskan alasannya. Dalam banyak kesempatan, memang kita sering terjebak untuk memberikan alasan atau penjelasan terlebih dahulu baru menjawab pertanyaan atau malah tidak ada jawaban yang-sebenarnya-dibutuhkan. Dalam kaidah Bahasa Inggris sendiri hal tersebut tidaklah salah, akan tetapi guru saya menekankan apabila kita berbicara dengan seorang asal Benua Eropa atau Amerika maka saya harus selalu menggunakan aturan tersebut karena orang seperti itu akan lebih nyaman dalam menyimak pembicaraan kita apabila kita menggunakan aturan tersebut. Berbeda dengan Orang Indonesia yang cenderung memberikan pejelasan terlebih dahulu baru menyimpulkan jawabannya atau terkadang malah tidak memberikan kesimpulan seperti beberapa jawaban dari pertanyaan yang saya lontarkan di status facebook saya.

Jawaban pertama dari R Yekti R;

Kl g ktauan mah kaga…….kl g d protek brati free for all

ð Jadi, apa jawaban anda Ririn? Masih mengambang…menyisakan saya untuk berpikir mengambil kesimpulan di saat saya butuh bantuan untuk berpikir. Jadi malah tambah bingung

Jawaban kedua dari Sugeng;

Jelas melanggar…

ð BEST ANSWER!!! Walau tidak menjelaskan alasannya, tapi anda membantu saya untuk memutuskan. Thank’s a lot!

Jawaban ketiga dari Antari;

klo gak tau malu & gak punya etika silahkan aja…tp klo akyu mending tidur aje hehehehe

ð Saya punya “etika”, sayang! Tapi apakah nilai “etika” saya dilanggar atau tidak itu adalah perkara lain karena nilai etika tiap orang berbeda, dan karena itulah saya bertanya kepada anda untuk mengetahui bagaimana nilai etika yg anda yakini menghadapi masalah ini.

Jawaban keempat dari Farly;

Technically no, ethically yes

ð NICE ANSWER!!! But I didn’t ask you about technicall term of this problem.

Kesimpulannya, apakah ini memang gaya bertutur kata dari Orang Indonesia? Kalau iya, apakah harus diubah?

Kalau saya sendiri, saya akan menjawab “tidak perlu” karena Bahasa adalah budaya termasuk cara bertutur kata. Cara menjawab pertanyaan yang seperti ini (diplomatis? politis?) yang menyisakan si penanya untuk berpikir kembali dan menelaah jawaban kembali memang acap kali saya temui dalam gaya bertutur kata rekan-rekan di sekitar saya. Masih mendingan kalau mereka bersedia memberikan kesimpulan, lha kalau cuma memberikan persoalan baru untuk dipikirkan?

Jadi, seperti kata pepatah di mana bumi dipijak di situlah langit dijunjung (eh, bener/nggak sih?). Bahasa, makanan, tutur kata, tarian dan musik menunjukkan budaya setempat. Jadi, ikuti saja apa yang ada.

No comments: