Tuesday, May 19, 2009

Acara yang aneh...

Beberapa hari sebelum ini, saya menonton sebuah acara yang menarik di salah satu stasiun televisi swasta. Acara ini memiliki format kuis di mana pesertanya adalah seorang dewasa yang diharuskan menjawab pertanyaan-pertanyaan kuis yang diambil dari pelajaran kelas lima sekolah dasar. Tidak hanya itu, peserta akan didampingi secara bergiliran oleh lima orang anak kelas lima sekolah dasar sebagai bantuan.

Pertama kalinya saya menonton acara tersebut, saya menonton seorang peserta yang didampingi seorang anak perempuan sebagai pendamping peserta seperti yang telah saya ungkapkan sebelumnya. Pertanyaan pertama yang dipilih oleh peserta tersebut adalah matematika dengan pertanyaan sebagai berikut:

3+3+3+3=... adalah 3x4 ataukah 4x3 ?

Dan hasilnya, baik peserta maupun pendamping menjawab 3x4 dan dibenarkan oleh host (Tantowi Yahya). Saya heran, saya ingat betul bahwa di sekolah dasar dahulu, saya selalu ditekankan bahwa bila ada angka 3 dijumlahkan sebanyak 4 kali maka hasilnya adalah 4x3=12 bukannya 3x4=12.

Apakah ini penting? Tentunya penting, mengingat hal ini sampai-sampai harus ditanyakan (baca : ditanamkan) pada anak sekolah dasar. Akan tetapi, di mana pentingnya? Ini dia jawabannya...

Anggaplah kita punya rumus f(a)=3a+6 , maka apakah artinya “3a” ?

Satu hal yang bisa kita sepakati bersama adalah bahwa 3a adalah kependekan dari 3.a yang merupakan kependekan dari 3xa

menurut apa yang diajarkan kepada saya, maka 3a adalah a+a+a

apabila, kita menurut seperti apa yang dianggap benar oleh kuis tersebut maka jawabannya adalah 3+3+3+3+3+3...hingga sebanyak a , padahal a di sini adalah variable dan tidak mungkin dia akan dapat menentukan akhir dari penjumlahan itu.

Kalau masih belum jelas, anggaplah kita punya dua persamaan yang diketahui memiliki hasil akhir sama, yaitu :
f(a)=3a+6 dan f(a)=2a+3 , dan kita akan mencari nilai a yang membuat dua persamaan itu memiliki nilai yang sama.

Dengan pemahaman yang saya yakini, akan diselesaikan seperti ini

<=> 3a+6 = 2a+3
<=> a+a+a+6 = a+a+3
<=> -a-a+a+a+a = 3-6
<=> a = -3

Dengan pemahaman seperti dalam kuis tersebut, maka pemecahannya akan seperti ini

<=> 3a+6 = 2a+3
<=> 3+3+3+3+...+6 = 2+2+2+2+...+3

ada yang bisa meneruskan??? berapa nilai a ?

Katakanlah kita merubah rumus menjadi f(a)=a3+6 dan f(a)=a2+3 , maka pemahaman dari kuis tersebut itu dapat memecahkan persoalan.

Akan tetapi, hal ini menjadi salah ketika diaplikasikan dalam fungsi barisan bilangan. Karena dalam fungsi barisan bilangan simbol a3 itu memiliki arti anggota barisan bilangan urutan ke 3 dari sebuah barisan bilangan a, contoh:

f(a)... a1 a2 a3 dengan aturan a(n)=3n+6, ups maaf a(n)=n3+6

maka a3=3.3+6 , sehingga a3=12...padahal kita sudah sepakati bersama bahwa a3 = ax3 = a+a+a
apakah itu berarti a = 4 , hehehe ya enggak, lah! Jadi, kita ganti juga aturan barisan bilangan itu menjadi

f(a)...1a 2a 3a dengan aturan a(n)=n3+6

Walah, malah bikin runyam...Udah bagus-bagus aturan penulisannya dibikin rapi kayak begitu, koq dibikin runyam dengan dibolak-balik begini? Nanti aturan penulisan rumus-rumus penting juga harus dibalik, seperti

R = 2Πr menjadi R = r2Π
E = Mc2 menjadi E = c2M (mbikin kuadrat-nya gimana, sih?), dll. karena substansinya adalah c dan Π adalah konstanta yang sudah jelas nilainya, sehingga bisa menjadi faktor multiplier (pengali) yang tepat untuk peubah (variable) M dan r. Hehehe, ya/nggak, sih?

Wes pokoknya, saya mau bilang bahwa jawaban dari acara kuis tersebut adalah salah dan harus diperbaiki. Terus sama anak perempuan yang menjadi pendamping (katanya “Juara Kelas”), kasihan kalau dari dasar saja sudah diajari sesuatu yang salah dan tidak konsisten semacam itu. “Juara Kelas”, lagi!

Hayo, bagaimana dengan anda?

No comments: