Monday, October 20, 2008

Solid State Drive

Menyimak tulisan I Made Wiryana dalam dua edisi InfoLinux (edisi 08/2008 dan edisi 09/2008) , saya mendapatkan sebuah pandangan baru yang semoga bisa jadi gambaran dan pertimbangan rekan-rekan sekalian. Seperti yang kita ketahui, ada tipe storage baru berbasis flash memory bernama Solid State Drive yang dipopulerkan oleh salah satu produk netbook terlaris saat ini, Asus EeePC. Solid state disk (SSD) berbeda dengan harddisk, karena ada batas berapa kali proses penulisan dapat dilakukan. Sehingga sistem yang menggunakan SSD sebagai media penyimpanan kerja harus mengurangi frekuensi proses penulisan. Ini menyebabkan berkas seperti temporary, swap dan sebagainya tidak bisa diletakkan di filesystem.

Namun, storage tipe ini memiliki keunggulan yaitu tidak berisik, hemat daya, cepat dan sangat handal. Walaupun harganya memang masih sangat mahal karena harga Flash memory memang masih mahal. Akan tetapi, memang tipe storage berbasis flash yang melakukan penyimpanan data secara elektronis (bukan magnetis seperti harddisk) ini memiliki ketahanan dan kehandalan yang jauh lebih baik ( Majalah CHIP, edisi 08/2008, Pengujian Ketahanan Media)

Untuk linux proses perubahan dari lokasi ini tidak begitu rumit, hanya perlu dilakukan beberapa perubahan pada proses penulisan file. Misal tidak menggunakan partisi swap, partisi SSD dimounting dengan opsi “noatime”, dan tidak menggunakan filesystem dengan journaling. Selebihnya adalah pemetaan direktori serta pemanfaatan /etc/sysctl.conf untuk mengoptimalkan proses penulisan ke SSD. Berbeda dengan WindowsXP, Microsoft membutuhkan waktu lama untuk men-tune sehingga cocok untuk eeePC. Akibat permintaan pengguna untuk menggunakan WindowsXP, maka versi baru eeePC terpaksa dinaikkan hardware-nya termasuk kapasitas SSD-nya. Hal ini menyebabkan harga eeePC menjadi lebih mahal, dan ini disebabkan kekurangmampuan WindowsXP di“tune” untuk ukuran kecil.

Dalam jangka waktu dekat ini, tampaknya USB Flash Drive sebesar 2GB masih lebih dari cukup untuk media penyimpanan portable yang saya gunakan. Mungkin bila sudah saatnya beralih ke SSD, kita bisa berharap Microsoft sudah membenahi produknya untuk menangani storage berbasis flash ini.

Salam semuanya!!!

Laptop jadi kaya' Handphone, aja!

Membaca opini I Made Wiryana dalam InfoLinux edisi Bulan April 2008, senyum lebar makin menghiasi wajah saya. Bukan karena Linux semakin menunjukkan keungulannya di dunia notebook modern, akan tetapi lebih karena ramalan yang saya simpan selama ini terbukti setidaknya ada indikasi yang mengarah ke sana. Permasalahannya, karena ramalan ini saya simpan maka tidak dapat dibuktikan bahwa saya telah meramalkan hal tersebut.

Sebelum berbicara mengenai ramalan saya tersebut, lebih baik kita menilik kembali ke belakang. Di tahun 2007 lalu, Intel meluncurkan standar platform yang didukung penuh oleh salah satu pabrikan notebook dalam negeri sehingga memberikan kesamaan terhadapa beberapa komponen notebook yang diharapkan berujung kepada kemudahan personalisasi notebook. Konsep yang ditawarkan, tampaknya akan membuat notebook seperti PC desktop. Beberapa kalangan bahkan menggembar-gemborkan
prediksi bahwa dalam masa depan, notebook akan seperti PC desktop rakitan. Akan tetapi, saya melihat standar tersebut (Common Building Block) hanya digagas oleh satu vendor komponen notebook, yaitu Intel. Ini artinya, tidak ada universalitas yang membuat gagasan itu bisa diterima oleh semua pabrikan notebook.

Saya cenderung melihat kebalikannya. Notebook dibeli oleh konsumen tidak hanya karena komponen yang menjamin performa prima dipadukan dengan harga yang murah. Notebook dibeli oleh konsumen, lebih karena alasan desain. Desain dalam hal ini tentu mencakup semuanya. Pertama, keseimbangan kinerja antar komponen jangan sampai prosesor kencang diimbangi dengan spesifikasi RAM yang tanggung dan kartu grafis yang pas-pasan atau notebook dengan dimensi mini agar mudah dibawa-bawa
akan tetapi mengusung baterai yang daya tahannya pas-pasan. Kedua, desain ergonomi seperti penataan keyboard, tingkat sensitivitas touchpad dan kelengkapan tombol standar dalam notebook yang memudahkan penggunaan jadi alasan konsumen memilih suatu produk notebook. Yang terakhir walau bukan yang paling akhir, nilai estetika notebook seperti langkah produsen notebook Taiwan yang menawarkan casing berlukiskan pernak-pernik logo tim balap formula one ataupun aksi pesaingnya yang menawarkan balutan kulit (leather) dalam casing notebook premium mereka.

Dari kesemua faktor tersebut di atas, akhirnya mewujudkan segmentasi pasar tersendiri bagi pasaran notebook. Ada notebook yang dikhususkan untuk kalangan pekerja, gamer, multimedia dan sebagainya. Dari kesemua segmentasi pasar untuk notebook tersebut, sesuai dugaan saya akan muncul satu segmentasi baru yang sampai sekarang saya sendiri susah untuk memberikan namanya. Segmentasi yang seperti ini diwakili oleh OLPC, Asus EeePC, Everex Cloudbook, Intel Classmates PC, dan
sebagainya. notebook-notebook yang sebagian besar mengusung sistem operasi Linux ini membuat notebook semakin terlihat mirip dengan handphone (belakangan disebut netbook). Kemiripan ini diwujudkan dengan hardware yang diracik oleh produsen sendiri dengan software yang dikustomisasi oleh produsen sendiri walaupun pengguna memiliki opsi untuk mengubah sendiri software di dalam notebook tersebut, tidak seperti dulu di mana notebook hanya ada bundle sistem operasi dari satu atau dua vendor sistem operasi sedangkan sisanya kosong tanpa sistem operasi. Tinggal konsumen sekarang dihadapkan kepada pilihan sesuai kebutuhan mereka dalam melakukan aktivitas komputasi. Seperti halnya konsumen memilih handphone sesuai dengan kebutuhan komunikasi mereka.

Sekarang, tinggal kita tunggu kreativitas para pabrikan notebook untuk meracik hardware dan software yang mampu menarik perhatian para konsumennya. Nah, ramalan saya adalah bahwa notebook akan menjadi semakin mirip dengan handphone, hehehe…salam.