
Tidak bisa dipungkiri bahwa distro Linux paling populer saat ini adalah Ubuntu. Distro keluaran Canonical ini merajai persebaran distro Linux di seluruh dunia dengan konsistensinya menempati daftar teratas distro terpopuler di distrowatch ( http://www.distrowatch.com ). Menurut pendapat pribadi saya, distro ini mampu mencapai prestasi yang sedemikian ini karena luasnya komunitas serta fasilitas ShipIT yang memungkinkan pengguna atau calon penggunanya mendapatkan copy DVD Ubuntu gratis tanpa perlu repot mendownload dari situs-nya. Tak lupa, link download juga disediakan di situs-nya.
Kepopuleran Ubuntu tidak berhenti di situ saja, salah satu majalah komputer terkemuka di Indonesia (bahkan dunia) memilih Ubuntu untuk mewakili OS Linux dalam artikel-nya yang membandingkan Linux, Ms Windows dan Mac OS. Bagi pembaca yang telah mengerti tentang Free and Open Source Software, pilihan terhadap Ubuntu dapat dimaklumi dengan wajar. Akan tetapi bagi pembaca awam yang belum mengerti hal ini bisa jadi bumerang yang mematikan. Jangan-jangan, dia beranggapan bahwa yang namanya OS Linux itu ya Ubuntu itu. Padahal, masih banyak distro lain selain Ubuntu yang (notabene) lebih mudah dalam beberapa hal dan (saya nilai) lebih siap untuk sistem operasi desktop yang bertujuan menggantikan sistem operasi Ms Windows.
Pengguna awam pasti akan membandingkan poin2 yang nampak jelas seperti ketersediaan driver untuk printer (peripheral terdekat untuk dicari driver-nya, ya tho?), kemampuan untuk memutar file multimedia (.mp3 , DVD, dan format proprietary populer lainnya), dsb. Dalam hal yang saya sebut di atas, Ubuntu masih kalah telak dibandingkan Mandriva dan Open SuSE (In My Humble Opinion). Sehingga yang ditakutkan adalah bila pengguna awam yang ingin mencari sistem operasi alternatif selain Microsoft Windows lalu beralih ke Ubuntu (karena “default distro” Linux adalah Ubuntu) lalu merasa kurang nyaman dikarenakan dukungan driver dan kemampuan memutar file multimedia tertentu tersebut, akan beranggapan bahwa Linux itu menyusahkan alih-alih beranggapan bahwa Ubuntu itu menyusahkan. Nah inilah yang akan jadi bumerang, karena yang dikampanyekan adalah Linux, bukan Ubuntu. Dikhawatirkan, pengguna yang baru saja mencoba bermigrasi ini akan kapok untuk mencoba Linux padahal di luar sana ada banyak Distro Linux yang lebih “baik” yang lebih “layak mereka coba”.
Akan tetapi bagaimanapun ini adalah buah dari kecerdikan Mark Shuttleworth dari Canonical. Dengan posisinya sebagai “Distro Linux Default”, maka mau tak mau pengguna yang ingin migrasi dari Ms Windows ke Linux akan memilih Ubuntu dan manakala mereka meminta support pastilah semuanya mengarah ke Canonical.
Ide yang jenius! Cemerlang!
So, dengan fasilitas ShipIT-nya ini Canonical perlahan-lahan menguasai dunia IT...
What Next?...
Dengan aktifnya Komunitas Linux di seluruh dunia mengkampanyekan Linux dan (mungkin) Ubuntu Release Party, apakah ini akan menjadi promosi gratis bagi Canonical untuk produknya? Membawa Canonical semakin dekat dengan penguasaan penuh dunia IT? Mengingat sudah banyak varian Ubuntu yang dikhususkan untuk gadget (embedded system).
Permasalahannya, mau apa setelah dia berhasil menguasai pasaran Sistem Operasi di dunia? Apakah yang akan dilakukannya? Mengumpulkan informasi-informasi penting dari setiap komputer berbasis Ubuntu di seluruh dunia dan menyetirnya menjadi zombie-zombie yang bergentayangan mengendalikan kehidupan digital kita? Ohh, terlalu seram untuk dibayangkan, nih!