Sunday, February 1, 2009

Primbon dan Fengshui

Keimanan seseorang memang tidak pernah dibiarkan tidak teruji. Hal tersebut memang sudah digariskan oleh Allah swt. Termasuk diri saya yang selalu mendapat ujian dan cobaan yang selalu menguji keimanan saya. Butuh waktu lama bagi saya untuk mencoba mengungkapkan pengalaman saya ini yang menguji keimanan saya dalam tataran pemikiran.

Waktu itu ada seorang rekan yang mengungkapkan kepada saya tentang suatu pemikiran bahwa dunia ini (baca : kehidupan kita ini) adalah sebuah aturan yang diciptakan oleh Allah swt. ,dijaga keteraturannya oleh malaikat-malaikatNya, dirangkum dalam naskah tertulis berupa Al-Qur'an, diterjemahkan agar dimengerti umat manusia oleh Nabi dan Rasul lewat ajaran yang disampaikan, dan dibuktikan kebenarannya di hari akhir (Rukun Iman, tuh! Hehehe!). Dalam masalah “aturan” yang telah digariskan oleh Allah swt. inilah yang menjadi masalah. Asumsikan suatu aturan seperti membeloknya cahaya dalam sebuah lensa cembung atau cekung itu adalah termasuk dalam “aturan” itu, berarti manusia boleh berusaha mencari aturan lain yang lebih luas lingkupnya daripada itu, seperti halnya Primbon atau Feng Shui. Hal ini dikuatkan oleh pernyataan seorang ahli Feng Shui yang hadir dalam acara Bukan Empat Mata dalam episode spesial Imlek 26 Januari 2009, yang menyatakan bahwa Feng Shui itu adalah ilmu yang didapatkan dengan cara mencatat segala kejadian yang terjadi di alam dan kenyataan yang terjadi, lalu dihubungkan dengan kenyataan yang ada (seperti halnya Primbon). Hal tersebut sama seperti cara mengetahui pembelokan cahaya dalam aturan yang saya sebutkan tadi. Cahaya yang melewati lensa dilihat arahnya dalam sebuah percobaan, lalu dilihat dan dicatat pembelokan yang terjadi dan dihubungkan dengan bentuk dari lensa tersebut. Kesimpulannya, kita dapat menerapkan Primbon dan Feng Shui dalam kehidupan sehari-hari seperti layaknya Ilmu Fisika berupa aturan pembelokan cahaya tersebut.

Kita memanfaatkan ilmu Feng Shui dan ilmu Primbon itu dalam rangka ikhtiar kita untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, yang mungkin dapat terhindar dari masalah-masalah yang dihadapi terkait dengan keadaan yang sekarang kita hadapi. Hal ini saya analogikan dengan menggunakan kacamata yang dimanfaatkan oleh para penyandang cacat mata miopi atau hipermetropi dalam rangka untuk mendapatkan pandangan yang lebih baik. Jadi sekarang pertanyaannya, apakah kini kita boleh percaya pada ilmu Feng Shui dan ilmu Primbon dalam menghadapi kehidupan kita? Atau percaya pada Feng Shui dan Primbon tetaplah merupakan sebuah bentuk dari Syirik kecil? Hal ini yang sampai sekarang masih menggelayuti pikiran saya.

Sampai sekarang, saya masih mencari jawaban akan hal ini. Katakanlah manusia bebas berpikir mengenai bagaimana sebenarnya aturan yang digariskan oleh Allah swt. untuk akhirnya dia mampu untuk tahu dengan pasti tentang apa yang akan terjadi di masa yang akan datang dan mengarahkan dunia ini seperti yang dia inginkan, dan akhirnya ada segelintir manusia mampu melakukannya. Maka semua orang akan berlomba-lomba untuk mencapainya dan lebih membahayakan lagi adalah mereka (manusia) akan mencoba mengubah dunia untuk keuntungan mereka. Kalau satu orang saja, mungkin masih bisa ditolerir setidaknya itu berarti dunia diatur olehnya karena dia punya suatu kuasa untuk mengaturnya. Akan tetapi, bayangkan kalau semua manusia di dunia berlomba-lomba menguasai ilmu itu dan setelah berhasil, mereka semua menggunakannya! Saya tidak bisa membayangkan semua itu terjadi.

Maka itu, Allah swt. dalam firmannya mengatakan seandainya ilmu Allah swt. adalah sebanyak air di laut maka ilmu manusia di dunia adalah sebanyak air yang menempel di jari manakala dicelupkan ke dalam lautan itu. Saya melihat ini sebagai suatu pertanda bahwa manusia tidak akan pernah bisa menemukan aturan yang dibuat oleh Allah swt. kepada dunia ini yang tercipta lewat ilmu yang dimiliki oleh Allah swt. Maka itu, tidak akan pernah ada manusia yang mampu mengetahui aturan dunia ini dan apa yang terjadi di kemudian hari karena akal manusia tidak akan pernah mampu untuk mencapainya. Tentu saja, kecuali apabila ada yang membocorkan rahasia “langit” ( mungkin maksudnya main-main sama Jin yang suka membocorkan rahasia takdir kali, ya? ). Tapi kembali lagi ke inti permasalahannya, apakah Ilmu Feng Shui dan Ilmu Primbon itu boleh dipercaya dan digunakan seperti halnya kita percaya dan menggunakan Ilmu Falak dan Ilmu Pengobatan?

Wallahua'lam bish showab...